Categories
Uncategorized

Sejarah Suku Lampung

Sejarah Suku Lampung – Nama Lampung adalah masyarakat adat yang tinggal di wilayah Lampung jauh sebelum kedatangan transmigran dan berbagai pendatang dari kelompok etnis lain. Populasi mereka sekarang sangat kecil dibandingkan dengan jumlah migran yang sebagian besar berasal dari Jawa. Karena populasi asal Jawa jauh lebih besar, pengaruh budaya Jawa pada hubungan antaretnis di Lampung cukup besar saat ini.

Menurut tradisi lisan, suku Lampung berasal dari Scala Brak, sebuah tempat di wilayah Belalau di wilayah Lampung utara. Nama “Lampung” sendiri dikatakan berasal dari cerita populer yang disebut “Bulan Ratu Lampung”. Dalam kronik-kronik Tiongkok pada abad ketujuh, wilayah Lampung dikenal sebagai To-Lang-p’o-whang, sebuah kerajaan yang sangat dihargai dari Sumatra bagian selatan.

Sejarah-Suku-Lampung
Sejarah Suku Lampung

Sisa-sisa master pendidikan prasejarah menunjukkan bahwa budaya yang dikembangkan di Lampung dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Bahkan diduga ada budaya megalitik yang lebih tua di daerah tersebut.

Selain prasasti dari periode Sriwijaya, patung Buddha, berbagai keramik Cina dari dinasti Han (200-220 M), Tang (607-908 M) dan dinasti Ming (1368-1643 M) ditemukan. Chr.) Juga tradisi megalitik yang berbeda dari budaya material Budha Hindu seperti batu berdiri, lumba-lumba, teras bebas, dan cagar alam batu. Saat ini orang-orang di Lampung umumnya masuk Islam, yang memasuki daerah ini sekitar abad ke-15.

Sejarah Masyarakat Lampung

Masyarakat Lampung mengenal dua kelompok tradisional besar, kelompok Pepatuan terdekat dan kelompok Peminggir atau Pubiyan. Selain itu, juga dikenal sebagai Semende (Semendo), Ranau, Belalau, Pegagan dan kelompok Ogan Tradisional. Kelompok lada tradisional umumnya hidup di daerah timur dan tengah Lampung, yang ditandai dengan sistem aristokrat tradisional mereka yang agak rumit yang disebut Kepunyimbangan. Kelompok masyarakat adat Peminggir umumnya tinggal di wilayah barat, ditandai dengan sistem stratifikasi sosial dua tingkat, juga disebut sebatina atau seibatina.

Pepadun Lampung dibagi menjadi empat kelompok, yaitu Abung Siwo Megou (Abung Sembilan Marga), Megou Pak Tulangbawang, Buay Lima dan Pubian Telu Suku (Pubian Tiga Suku). Setiap kelompok masih dibagi menjadi sejumlah klan besar yang tinggal di daerah yang disebut Buay atau Kebuayan. Lampung dibagi menjadi lima kelompok, yaitu Roda Bergulir Rajabasa, Teluk Peminggir, Peminggir Skala Brak (di wilayah Liwa), Peminggir Semangka, termasuk kelompok Komering (yang ditemukan di daerah Ranau, Komering, dan Kayu Agung Sumatra) Live Selatan). ).

Bahasa Suku Lampung

Menurut ahli bahasa Belanda Van der Tuuk, bahasa Lampung dibagi menjadi dialek Abung, yang digunakan oleh kelompok komunitas berbasis Papadun, dan dialek Pubiyan, yang digunakan oleh kelompok komunitas berbasis di Peminggir. Sebaliknya, Van Royen membagi bahasa Lampung menjadi kelompok dialek dan dialek api. Menurut para ahli Indonesia, bahasa Lampung berperilaku seperti Lampung atau Umung Lampung atau cewoLampung masih dapat dibagi menjadi dua dialek, yaitu dialek Lampung Belalau dan dialek Lampung Abung, yang masing-masing dibedakan dengan pengucapan a dan o. Dialek Belalau Lampung (dialek a) dibagi menjadi beberapa subdialek, yaitu Jelma Doya (Sungkai), Memanggil Peminggir, Rolling Perintir dan Pubian. Dialek Abung Lampung (atau dialek) dibagi menjadi dua sub-dial, yaitu Abung dan Tulangbawang. Masyarakat Lampung memiliki aksara sendiri yang disebut surat Lampung atau surat Lampung (hampir sama dengan tulisan lama Rejang, Serawai dan Pasemah). Alfabet yang digunakan tampaknya merujuk pada dewa Nagari, yang berasal dari bahasa Sansekerta.

Mata Pencaharian Suku Lampung

Mata pencaharian awal adalah membakar dan menebang ladang dan memindahkan serta mengumpulkan hasil hutan. Berkat pengaruh orang lain yang datang kemudian, mereka juga mulai mengembangkan sistem irigasi di sawah dan memelihara kerbau, sapi, kambing, dan lainnya. Pada abad kedelapan belas, mereka juga mulai menanam tanaman keras seperti kopi, karet, cengkeh dan rempah-rempah seperti lada dan pala. Perburuan satwa liar dan pengumpulan hasil hutan masih dilakukan oleh beberapa warga. Mereka saat ini mempekerjakan transmigran untuk bekerja di lada, kopi, cengkeh dan perkebunan lainnya. Beberapa dari mereka memilih pekerjaan pemerintah atau swasta di kota.

Baca Juga :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *